Pancasila Masih Sebatas Retorika

Demikian rangkuman pendapat sejumlah tokoh bangsa menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila yang Senin (1/6) ini akan dipusatkan di Alun-alun Kota Blitar, Jawa Timur. Blitar merupakan tempat Presiden Soekarno, penggagas Pancasila, dimakamkan.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mengatakan, penanaman nilai-nilai kebangsaan perlu terus dilakukan meskipun harus memakan waktu 10 tahun, 15 tahun, bahkan lebih. ”Harus terus-menerus karena menyangkut pembentukan karakter bangsa,” kata Zulkifli di Blitar, Minggu (31/5).

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif berpendapat, pelaksanaan Pancasila sejak awal telah bermasalah. Sila kelima, misalnya, tidak pernah dijadikan pedoman utama dalam politik pembangunan nasional, kecuali dalam pernyataan verbal. Akibatnya, kesenjangan sosio-ekonomi semakin lebar. Sesuatu yang sangat ironis di negara Pancasila. ”Pancasila dimuliakan dalam kata, tetapi dikhianati dalam perbuatan,” kata Syafii Maarif.

Pemikir kebangsaan Yudi Latif, dalam bukunya Negara Paripurna, Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, menulis urgensi ”radikalisasi Pancasila”. Menurut Yudi, ”radikalisasi” dalam arti ini adalah revolusi gagasan demi membuat Pancasila tegar, efektif, dan menjadi petunjuk bagaimana negara ini ditata kelola dengan benar.

Mengutip Kuntowijoyo sebagai sejarawan beride ”radikalisasi” itu, Yudi menyebut lima syarat perwujudan. Kelimanya adalah, pertama, mengembalikan Pancasila sebagai ideologi negara, dan yang kedua, mengembangkan Pancasila sebagai ideologi menjadi Pancasila sebagai ilmu.

Adapun yang ketiga, mengusahakan Pancasila mempunyai konsistensi dengan produk-produk perundangan, koherensi antarsila, dan korespondensi dengan realitas sosial. Keempat, menjadikan Pancasila yang semula hanya melayani kepentingan vertikal (negara), menjadi Pancasila yang melayani kepentingan horizontal. Kelima, menjadikan Pancasila sebagai kritik kebijakan negara.

Keteladanan aparat

Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR Tubagus Hasanuddin, saat membuka Seminar Kebangsaan Hari Lahir Pancasila di Blitar, Sabtu (30/5), menyatakan, kondisi negara yang kini marak dengan kegaduhan politik dan hukum dapat ditengahi dengan penerapan kembali nilai-nilai Pancasila. Aparatur negara dan elite politik patut menjadi teladan bagi masyarakat lewat pengambilan keputusan dan kebijakan yang berdasarkan Pancasila.

Tags:

About riauku

myself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: