Pariwisata Riau di Mata Dunia

 

Dua hari pertama mengikuti kegiatan ITB Berlin, sebuah perhelatan pameran pariwisata terbesar di dunia yang diikuti 184 negara membuat pikiran ini menerawang jauh. Datang dari Riau hanya berdua dengan Pemred Riau Pos HM Nazir Fahmi banyak pelajaran yang bisa diambil. Terutama masalah pariwisata di Riau.

Paviliun Indonesia yang megah dengan buritan kapal pinisi di tengahnya membuat tampilan Indonesia sangat kontras di antara negara-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, Jepang dan Thailand. Apa lagi Indonesia membawa sekitar 84 stake holder berupa hotel, travel agent dan resort  semenjak hari pertama sudah disesaki pengunjung dan para pelaku pariwisata dari manca negara. Tujuan mereka hanya satu. Ingin tahu apa yang terbaru dan mereka ingin datang.

Saat kami mencoba menawarkan brosur, CD dan majalah tentang potensi pariwisata Riau ada rasa canggung untuk bersaing bersama daerah lain seperti Bali, DKI, Jabar, Sumut, Lombok, Manado dan bahkan Papua. Hal ini dikarenakan daerah yang disebut di atas sudah lama ikut berpartisipasi dalam iven yang luar biasa ini. Namun sebagai pendatang baru justeru ada semangat juang yang mendorong bahwa Riau harus dilirik.

Apalagi saat melihat lihat apa saja potensi yang ditawarkan negara negara lain yang mempunyai kesamaan dengan Riau. Bertambah timbul semangat, bahwa Riau juga punya dan bisa.
Sebulan sebelum berangkat ke Berlin beberapa waktu lalu sempat diskusi dengan Bupati Siak, ada luapan asa ketika beliau menyebutkan bahwa Siak ke depan akan menjadi barometer pariwisata Riau. Rencana pembuatan Museum Perminyakan, Museum Kertas, Museum Kelapa Sawit dalam waktu dekat ini rasanya sudah cukup untuk membuat Siak layak dijual. Apa lagi rencana pembenahan pelatihan gajah di Tahura bisa segera diwujudkan. Kebingungan para pelaku pariwisata karena susah menjual Riau, tak beralasan lagi. Minimal paket Pekanbaru Siak 3 hari 2 malam sudah layak dijual. Belum lagi potensi di Pelalawan berupa Bono dan TNTN, dan Bengkalis dengan Giam Siaknya.

Mendorong pemerintah daerah Riau  untuk serius mengelola pariwisata adalah suatu keharusan. Kita tidak ingin negeri ini menjadi daerah mati karena di masa yang akan datang potensi sawit dan perminyakan akan habis dan menyisakan padang tandus yang tidak bisa diharapkan lagi produktivitasnya.

Rakor pariwisata, Ranperda pariwisata dan perencanaan kegiatan pariwisata yang selama ini rutin dilaksanakan perlu dievaluasi kembali. Semua lini harus dilibatkan dari awal. Ide dan pemikiran pelaku industri pariwisata perlu dipertimbangkan. Jangan lagi kehadiran mereka hanya sebatas tukang stempel. Karena mereka yang langsung berhadapan dengan pasar. Tidak zamannya lagi mengambil jarak dengan pihak swasta. Karena bagaimanapun pelaku pariwisata juga bagian yang terlibat aktif mengahasilkan devisa dan  pendapatan asli daerah. Kita perlu belajar kepada daerah lain seperti Bali, Sumbar, Jabar, Kaltim, Papua dan banyak yang lain, dimana antara pemerintah dan swasta bahu membahu membangun pariwisata.

Tidak kalah penting, kepala daerah perlu memikirkan bahwa Dinas Pariwisata jangan lagi menjadi institusi yang kurang diperhitungkan. Seharusnya yang duduk di sana adalah orang orang memahami pariwisata dan saat berkecimpung di dunia pariwisata mereka bukanlah hanya sebagai pelengkap rutinitas. Perencanaan, pelaksanaan kegiatan harus tepat guna. Sehingga bisa menghasilkan devisa dan sumber pendapatan yang luar biasa. Cara berpikir bukan lagi sekadar proyek dan mendapatkan keuntungan sesat. Tapi harus ada ukuran yang jelas dan menghasilkan hasil berkesenambungan.

Apa yang dibuat oleh beberapa daerah dimana para staf dan pengambil kebijaksanaan di Dinas Pariwisata adalah para profesional yang mempunyai latar belakang dunia pariwisata menampakkan hasil yang luar biasa. Contoh dekat Sawahlunto. Dari kota tambang yang sudah mati menjadi pusat perhatian dan ikon baru di dunia pariwisata Indonesia.

Hubungan dan komunikasi dengan pihak Kementerian Pariwisata dan ekonomi kreatif pusat harus dibina kuat dan terjaga terus menerus. Agar potensi pariwisata Riau mendapat perhatian mereka, karena pihak pusat pun ingin dibantu memperkaya bahan bahan promosi mereka.

Riau sesungguhnya menarik dari kaca mata orang luar. Terbukti bahan promosi yang ditawarkan kepada pengunjung pameran di ITB Berlin ini dalam dua hari habis ludes. Banyak yang kaget dan terkagum. Riau kaya dengan flora dan fauna dan bahkan saat menyaksikan film Bono banyak yang takjub. Terutama operator surfing yang selama ini hanya mengenal surfing di sungai Inggris dan Brazil. Apa lagi saat dijelaskan panjangnya gelombang Bono bisa mencapai 42 Km. Wonderful, itu yang keluar dari mulut mereka. Kerja kami hanya satu langkah awal untuk penetrasi pasar. Kita ingin belajar bagaimana orang lain menggali, mengemas dan menjual potensi pariwisata yang ada. Negara-negara Afrika yang masih diamuk perang seperti Mali dan Somalia saja tetap tampil menjual. Itu satu bukti bahwa pariwisata adalah sesuatu yang menjanjikan.

Untuk itu sekali lagi mari kita duduk bersama dengan iktikat memajukan pariwisata Riau. Pariwisata Riau harus bangkit.***

Ibnu Mas’ud
Ketua Asosiasi Agen Tour dan Travel Indonesia (Asita) Provinsi Riau

Tags:

About riauku

myself

4 responses to “Pariwisata Riau di Mata Dunia”

  1. suwardi_ms@yahoo.co.id says :

    usahakan promosi secara meluas ke dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: