BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 8,75%

Harapan banyak kalangan agar Bank Indonesia (BI) menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) secara lebih agresif akhirnya terwujud. Rapat Dewan Gubernur BI kemarin berkeputusan memangkas BI Rate 50 basis poin (bps) dari 9,25% menjadi 8,75%.

Penurunan kali ini lebih agresif dibanding Desember 2008 lalu yang hanya 25 bps. Gubernur BI Boediono berharap penurunan BI Rate dapat menggerakkan sektor riil. Imbangan risiko pada 2009 memang menghendaki agar kebijakan moneter mendukung pertumbuhan ekonomi. “Namun, kebijakan moneter juga tetap mengawal inflasi dan stabilitas sektor keuangan dalam jangka menengah,“ ujarnya saat memberikan keterangan pers di Gedung BI, Jakarta, kemarin.

Boediono menuturkan, dalam beberapa bulan terakhir,tekanan inflasi dalam negeri terus turun akibat pelemahan harga komoditas,pangan, dan energi dunia; baiknya produksi pangan di dalam negeri selama 2008, serta melambatnya permintaan agregat. Bahkan pada Desember 2008 terjadi deflasi 0,04%, sehingga laju inflasi 2008 tercatat sebesar 11,06%. Pada 2009, inflasi diperkirakan terus menurun menuju kisaran 5–7%, ditunjang oleh berlanjutnya kondisi faktor-faktor pendukung tersebut.

“Pada 2009, indikator-indikator awal perekonomian Indonesia menunjukkan perlambatan pertumbuhan beberapa komponen permintaan agregat, khususnya ekspor dan investasi,“ kata mantan menteri koordinator bidang perekonomian ini. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 akan melambat menjadi sekitar 4–5%. Batas atas prediksi tersebut sesuai estimasi Kantor Menko Perekonomian.

Pengamat perbankan Ryan Kiryanto berharap penurunan BI Rate segera diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan. Dengan demikian, penurunan BI Rate bisa mendorong pergerakan sektor riil. “Langkah BI menurunkan BI Rate 50 bps menjadi sentimen positif bagi sektor perbankan karena akan diikuti penurunan suku bunga simpanan rupiah dan suku bunga kredit,“ kata Ryan. Penurunan suku bunga berdampak positif bagi sektor riil lantaran meringankan beban bunga bagi debitor, menyehatkan keuangan perusahaan, dan mendorong permintaan kredit.

Di sisi lain,pemangkasan suku bunga acuan akan memberi sentimen positif ke bursa saham dan obligasi. “Langkah BI ini menjadi lebih berarti karena sejalan dengan semangat pemerintah menjaga ketahanan ekonomi di tengah krisis keuangan global melalui paket insentif fiskal,“ katanya. Langkah BI juga patut diapresiasi karena berani menurunkan sebanyak 50 bps poin, bukan hanya 25 bps.Ke depan, ruang penurunan BI Rate masih akan bergantung pada ekspektasi inflasi.

”Jika melihat semua faktor inflatoir melemah, maka di bulan-bulan berikutnya ruang penurunan BI Rate masih terbuka, minimal 25 bps,”ujar Ryan. Kepala Ekonom Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan BI Rate merupakan stimulus dari sisi moneter bagi sektor riil. Dengan demikian, sektor riil memiliki harapan untuk tidak terlalu terpuruk akibat krisis keuangan global.”Saya perkirakan aktivitas di sektor riil lambat laun akan meningkat lagi,”katanya.

Kalangan dunia usaha mendesak industri perbankan dalam negeri secepatnya merespons penurunan suku bunga acuan. Mereka meminta BI mengawasi penyesuaian suku bunga kredit oleh perbankan. ”Secara teoretis, penurunan BI Rate memang tidak otomatis mendorong penurunan lending rate.Tapi, kita minta otoritas terkait (BI) mendesak penurunan bunga kredit,” ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, penurunan tingkat suku bunga kredit sangat diperlukan demi mempertahankan daya saing produk industri dalam negeri. Sebaliknya, apabila pemangkasan suku bunga kredit tidak segera terealisasi, penurunan BI Rate tidak berefek apapun bagi dunia usaha. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa juga mendesak perbankan agar segera menurunkan tingkat suku bunga kredit.

”Harapan kami, perbankan segera ikut menurunkan bunga deposito dan lending rate,”ujarnya. Menurut Erwin, penurunan bunga kredit harus dilakukan agar kebijakan bank sentral menurunkan BI Rate sebesar 50 bps bisa efektif dalam menstimulasi kegiatan ekonomi dalam negeri. Terlebih dunia usaha saat ini dihadapkan pada kesulitan likuiditas akibat krisis finansial. ”Dampak penurunan BI Rate baru terasa oleh dunia usaha bila perbankan ikut menurunkan suku bunga,” katanya.

Departemen Keuangan (Depkeu) menyambut baik langkah BI menurunkan tingkat suku bunga acuan. Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto, penurunan BI Rate akan menyebabkan tingkat imbal hasil lebih rendah,sehingga harga surat utang akan naik. (tomi sujatmiko/meutia rahmi/zaenal muttaqin)

Tags: ,

About riauku

myself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: