BBM Langka,Pertamina Gak becus,SBY Berang

Belum genap sepekan memasuki awal tahun baru 2009, Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) diributkan dengan antrean kendaraan bermotor di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU). Bahan bakar minyak jenis premium yang menjadi kebutuhan pengendara kendaraan bermotor kembali langka.

Kejadian pada awal tahun ini membuat orang nomor satu di negeri ini pun berang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sela-sela pidato pembukaan perdagangan perdana di Bursa Efek Indonesia menyatakan kecewa atas kelangkaan premium.

Dari Istana bahkan tersiar kabar Kepala Negara juga sempat menduga keterlambatan distribusi ini akibat cuaca yang buruk sehingga ombak tinggi yang membuat kapal tidak dapat merapat, hingga pertanyaan mengapa pada jelang pergantian tahun baru 2009 ini tidak dilakukan peninjauan ke Plumpang dan sejumlah instalasi energi, yang biasanya dilakukan rutin oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro beserta jajarannya.

“Tidak harus ngantor untuk mengatasi ini, karena kantor memang libur. Yang penting sistem yang jelas. Jangan lantas tidak responsif, dan tidak melayani rakyat. Itu salah,” tegas Kepala Negara.

Kejadian kelangkaan premium kali ini menjadi fenomena menarik mengawali 2009. Ada dua hal yang perlu diperhatikan yang memicu kelangkaan premium ini. Pertama, PT Pertamina tengah menerapkan sistem pelayanan administrasi dengan penggunaan teknologi MySAP.

Kedua, beredarnya rumor di kalangan pengusaha SPBU tepat pada pergantian tahun, pemerintah akan kembali menurunkan harga BBM. Rumor ini pada akhirnya membuat pengusaha yang memiliki prinsip dasar selalu mendapatkan untung, membiarkan stok premium di SPBU habis karena sengaja tidak menebusnya.

Berdasarkan pantauan penulis di dua SPBU yang terletak bersisian di lokasi yang sama di Jalan Abdul Muis Jakarta Pusat terjadi hal yang berbeda. Satu SPBU memasang pengumuman bahwa premium kosong, sementara SPBU di sebelahnya beroperasi seperti biasa.

Kejanggalan ini terjadi juga di Pekayon, Bekasi, di mana terdapat dua SPBU yang lokasinya saling berhadapan. Satu SPBU terlihat sepi karena tutup, sementara SPBU di depannya tetap beroperasi.

Jika dikatakan premium langka karena tersendatnya masalah distribusi karena cuaca, dapat dipastikan rata-rata SPBU akan memasang pengumuman yang sama, yakni “Maaf Premium Habis” di pintu masuknya.

Sementara itu, Agus, salah satu staf di SPBU Pejompongan, Jakarta Pusat, menyatakan sejak 31 Desember telah mengirimkan sejumlah uang untuk mendapatkan pasokan, tetapi kiriman BBM dari Pertamina tak kunjung datang.

Ketika ditanyakan mengenai teknologi baru yang diterapkan Pertamina untuk memperbarui sistem pelayanan administrasinya, Agus menyatakan tidak tahu menahu mengenai hal tersebut.

Sudah disosialisasikan

VP Komunikasi PT Pertamina Anang Rizkani Noor mengakui transisi penggunaan sistem baru ini membuat terjadinya kelangkaan, tetapi dia menolak anggapan bahwa manajemen BUMN itu tidak menyosialisasikannya kepada kalangan pengusaha SPBU.

“Sistem ini sudah disosialisasikan oleh Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi [Hiswana Migas] sejak 2 bulan sebelum diterapkan,” kata Anang.

Sementara itu, Ketua Umum Hiswana Migas Mohammad Nur Adib di berbagai kesempatan menuding kelangkaan pasokan BBM ke sejumlah SPBU ini akibat kesalahan BUMN migas ini.

Menurut dia, sistem pemesanan dan penebusan BBM yang diterapkan secara online oleh Pertamina belum beroperasi maksimal. Akibatnya hal itu mengganggu proses pasokan BBM ke SPBU tidak hanya di Jabodetabek, tetapi juga di luar Jawa.

Direktur Utama PT Pertamina Ari H. Soemarno mengakui gangguan pasokan karena masalah administratif baru. Untuk mengatasi hal itu, maka Pertamina akan meneruskan distribusi selama 24 jam, dan memberikan kredit kepada pengusaha SPBU yang belum memiliki delivery order selama bank libur pada Sabtu dan Minggu. Selain itu, Pertamina memberi kompensasi kerugian Rp160 per liter atas penurunan harga BBM pada 15 Desember lalu terhadap BBM yang telah dibeli pengusaha SPBU.

Meski mengakui adanya gangguan di internal perusahaan, orang nomor satu di Pertamina ini juga balik menuding pengusaha SPBU bersikap egois karena tidak mau menebus BBM.

Sikap yang tidak fair ini dipaparkan Ari, dengan pernyataan bahwa ketika harga BBM akan naik, para pengusaha berlomba-lomba mengambil jatah yang banyak untuk memenuhi tangkinya. Namun ketika harga BBM diturunkan, maka pengusaha tidak mau menebusnya, dan justru minta kompensasi karena rugi.

Direktur Keuangan PT Pertamina Ferederick S. T. Siahaan menyatakan perusahaan memperkirakan terjadi penumpukan pesanan dari pengusaha SPBU pada 30 Desember hingga 31 Desember 2008. “Akan tetapi pada tanggal itu tidak terjadi penumpukan. Justru penumpukan terjadi pada 2 Januari.”

Untuk menyelesaikan masalah ini, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Tubagus Haryono sejak pekan lalu menurunkan tim penyidik sipil bidang migas. Depot pengisian bahan bakar di Plumpang, Jakarta Utara, dan sejumlah SPBU masuk dalam daftar tim ini.

Tim ini diterjunkan untuk mencari bukti ada tidaknya penyalahgunaan distribusi. Jika hal tersebut ditemukan, segera ditindak tegas.

Meski demikian, Tubagus menginformasikan sistem online yang diterapkan Pertamina untuk mekanisme pemesanan dan penebusan BBM belum ditunjang kesiapan prasarana. “Jadi, ketika uji coba tidak muncul masalah, tetapi ketika diterapkan ada sistem yang tidak berjalan. Ini sedang diperbaiki.”

Lepas dari masalah sistem teknis administratif baru yang diterapkan untuk menyempurnakan sistem lama, masih belum sempurna, dan juga sifat pengusaha yang ingin selalu mendapatkan untung dalam bisnis, kejadian kelangkaan BBM seperti ini tidak perlu terulang kembali.

Selain itu, sistem distribusi BBM baik di Jawa maupun di luar Jawa yang dimiliki PT Pertamina sejak zaman belum berubah menjadi PT, tak ubahnya seperti benang kusut yang sangat rumit. Mengapa itu tidak dicoba untuk diurai, dan membuat konsep distribusi yang lebih sederhana.

Pertamina perlu lebih ‘bersemangat’ dalam menyosialisasikan sistem online pemesanan BBM. Jangan menutup-nutupi kondisi sebenarnya dengan mengatakan sudah optimal melakukannya, padahal di lapangan sistem baru belum sepenuhnya dipahami oleh pengusaha SPBU.

Di sisi lain, pengusaha SPBU jangan mau untung dan hendaknya bersikap terbuka apakah mereka mengorder atau memang sengaja tidak mengorder lantaran tak puas soal kompensasi.

Selain itu, koordinasi antara instansi yang berwenang untuk kelancaran distribusi dan ketercukupan stok penting. Mengingat jika terjadi kelangkaan, tidak hanya sekelompok atau golongan yang dirugikan, tetapi pada akhirnya masyarakat luas yang merasakan dampaknya. (diena.lestari)

About riauku

myself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: