Fenomena Ayam Kampus di Pekanbaru

Banyak ‘Ayam Kampus’ Senang
Dipelihara

‘Ayam kampus’ tak sekedar
melayani transaksi ‘eceran’. Mereka juga senang jika ada pengusaha atau pejabat
‘main borong’ alias menjadikannya peliharaan.

Riauterkini- Jika Puspa
dan Melati lebih senang main ‘eceran’, tidak demikian dengan Delima (22), nama
samaran. Mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Pekabaru tersebut lebih
suka menjadi ‘ayam kampus’ peliharaan. Karena jauh lebih terjamin penerimaan
uangnya.

“Dulu saya juga melayani transaksi seperti itu, tapi saya
sekarang sudah nyaman dengan bapak itu,” tuturnya kepada riauterkinicom di
sebuah tempat kos di bilangan Harapan Raya belum lama ini.

Delima yang
saya berbincang ditemani seorang temannya, sesama ‘ayam kampus’, sebut saja
bernama Mawar, lantas menceritakan pengalamannya menjadi simpanan
pejabat.

Untuk mendapatkan pasokan dana pasti sebesar Rp 5 juta sampai Rp
10 juta setiap bulan, Melati cukup melayani ‘sang pemelihara’ beberapa kali
dalam sebulan. “Ya, kalau bapak itu sedang mau, ya saya disuruh datang ke sebuah
tempat. Kadang seminggu sekali. Kadang lebih,” tuturnya.

Delima
mengatakan, bahwa banyak temannya juga menjadi ‘ayam peliharaan’. Baik oleh
pengusaha maupun pejabat, termasuk oleh polisi. “Ada juga yang dipelihara
polisi,” tukasnya.

Lebih lanjut Delima mengatakan, bahwa kadang-kadang ia
harus menemani ‘pemeliharanya’ ke luar kota. “Kalau pas hari libur panjang,
kadang saya dibawa bapak ke Jakarta atau ke Yogyakarta,” ceritanya
lagi.

Meskipun sudah dipelihara,
namun bukan berarti Delima tak menerima order eceran. Kalau ia sedang suntuk dan
ada pesanan cocok. Cocok harga dan cocok selera, Delima pasti
melayani.

“Kalau yang pesan keren, saya pasti mau. Buat obat. Bosan
melayani bapak-bapak terus,” candanya.

Mendengar enaknya cerita menjadi
‘ayam peliharaan’ dari Delima, Mawar justru tertarik. Gadis cantik berkulit
putih tersebut lantas minta riauterkicom mencarikan pengusaha atau pejabat yang
bersedia menjadikannya peliharaan.

“Kalau Abang bisa carikan aku
pejabat, nanti aku kasih bonus. Aku servis gratis,” rayunya.***

Tidak Semua ‘Ayam Kampus’ Merasa
Terpaksa

Menjadi pelacur, apapun
kelasnya tetaplah sebuah pekerjaan nista, namun tidak semua ‘ayam kampus’
menjalaninya dengan terpaksa.

Meskipun merupakan larangan
negara dan juga agama, namun faktanya prostitusi dalam berbagai bentuk di hampir
semua kota di Indonesia tetap tumbuh subur. Para pelakunya semua menyadari
kegiatannya salah, namun anehnya, ada juga di antara mereka yang mengaku sadar
dan tidak merasa terpaksa menjalaninya.

“Munafik kalau saya bilang
terpaksa seperti ini (menjadi ayam kampus.red). Hidup ini pilihan. Saya sangat
sadar dengan pilihan saya,” tutur Melati (23), mahasiswi tingkat akhir di sebuah
perguruan tinggi ternama di Pekanbaru kepada riauterkinicom belum lama
ini.

Dipaparkan Melati, dirinya sudah terjerumus dalam prostitusi
terselubung sejak tiga tahun silam. Setelah termakan candu kehidupan malam.
Hobinya menikmati dunia gemerlapan atau Dugem perlu biaya besar. Sementara,
kiriman orang tuanya yang tinggal di provinsi tetangga hanya cukup untuk biaya
kuliah, bayar kos dan makan.

“Mulanya saya diajak teman untuk dugem. Dia
yang bayar, tetapi lama-lama keenakan. Tidak mungkin dong, dia terus yang bayar.
Saya ketagihan untuk dugem dan itu perlu biaya besar,” paparnya.

Melati
lantas membenarkan pameo yang sering diucap masyarakat terkait usaha haram.
“Uang setan dimakan hantu.” Seperti itulah dirinya. Penghasilannya dair ‘menjual
diri’ cukup besar. Sebulan bisa mendapat Rp 20 juta, tetapi uang sebanyak itu
tak tersisa. Habis untuk dugem dan membeli obat penenang, nama lain dari
narkotika.

Pengakuan berbeda disampaikan Puspa. Mahasiswi blasteran
tersebut mengaku tidak rutin jadi ‘ayam kampus’. Ia hanya menerim pelanggan jika
kondisi keuangan sedang sekarat.

“Kalau uang saya lagi cukup, untuk apa
begituan,” tukasnya beralasan.

Tapi, jika kondisi keuangan sedang seret.
Kiriman dari orang tuanya dari provinsi tetangga belum datang, sementara banyak
kebutuhan mendesak. Seperti ibu kos yang menagih pembayaran dan biaya kuliah
menunggak, jalan pintas terpaksa diambil.

Puspa mengaku punya temen yang
bekerja di sebuah tempat hiburan malam yang selalu ia minta tolong kepadanya
mencarikan pelanggan jika sedang butuh uang.

Dikatakan Puspa, ia memilih
sikap seperti itu karena sebenarnya ia tak menikmati setiap kali melayani
pelanggan. Karena itu, ia kadang mendengar pelanggan mengeluh karena mungkin tak
mendapatkan pelayanan memuaskan darinya.

“Saya tidak mungkin pura-pura menikmati digauli pria
seusia ayah saya. Mungkin karena itu, kadang ada pelanggan yang kecewa,”
tuturnya.

Catatan redaksi

Sebagai penutup, redaksi perlu
mengungkap latar belakang munculnya liputan khusus ‘ayam kampus’ di Pekanbaru.
Adalah keberadaan Maharani Suciwati, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di
Jakarta yang turut diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat menangkap
tangan tersangka korupsi impor daging sapi Ahmad Fatonah yang menjadi
‘pemicu’.

Redaksi lantas ingin menelusuri kemungkinan adanya praktek
gratifikasi seks di Riau, mengingat daerah ini memiliki banyak kasus korupsi,
baik yang sudah terungkap maupun yang masih tersembunyi.

Dari penelusuran
yang kami lakukan, indikasi adanya praktek gratifikasi seks
ditemukan.

Liputan ini sama sekali tidak bertujuan untuk memberi
informasi bagaimana caranya mendapatkan ‘ayam kampus’, karena itu kami tidak
mendiskrisikan di mana para ‘ayam kampus’ Pekanbaru biasa menikmati kehidupan
malamnya.

Juga kewajiban kami melindungi nara sumber. Memunculkan nama
samaran serta tidak menyebutkan nama perguruan tinggi tempat ‘ayam kampus’
menimba ilmu.

Terakhir, kami hanya ingin menghadirkan fakta adanya
fenomena ‘ayam kampus’ di Pekanbaru. Semua terpulang kepada kita, terutama
pemerintah dan pihak perguruan tinggi menyikapinya.***(red/tamat)

Tag:, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: